Friday, July 1, 2016

00:04

(click : When You Are Near )

Dan beginilah rupa sebuah jiwa yang bukan main sendu, yang berderu di tengah malam. Saat semua orang sudah menikmati ayunan dalam mimpinya. Ia masih terjaga, bertikai dengan apa-apa yang nyata tapi tak cakap ia hadapinya.

Dan sudah habis semua goresan tinta dan kata makna yang ia perlu baca dan dengar. Lagi-lagi ia tertawan pada kekecewaan dan kelimpungannya sendiri. Pada sesalnyalah ia mengaduh. Menerka-nerka laluan apa, yang mana. Apabila menunggu bulan sampai tiba gerhana, ia kan hanya terombang-ambing di kapal kecil yang ia pasok dengan pangan yang hanya tahan sampai api lilinnya padam. Bilamana perih, paling tidak ia rasa sudah impas.

Jikalau bukan begitu, ia tengah menjadi baik-baik saja untuk membentengi tilikannya yang tidak patut dan ceritanya yang pelik, yang ia usahakan habis-habisan supaya wajar.

Sekarang ia habis akal, rumah yang ditemukannya muncul dan hilang. 

Kemudian ia disadarkan bahwa segelap-gelapnya malam, pagi akan datang juga.

No comments:

Post a Comment