Saturday, June 24, 2017

We Should Try To Understand

I recently had this kind of discussion, well, about people and problems. These two elements are nothing but can not be seperated each other, thus we may say, the people should ; cope with it, try to solve it, and learn from it.

Muchless that is what i can conclude. Problems are relative, big or small. They show up and get around people in all ages - old or young, both sexes - male or female, all status - students or housewives, all occupations - CEOs or servants.  They just appear differently because problems are within different kinds. We all facing problems and obstacles in our life, mine not necessarily bigger than yours, or yours neither tougher than hers, We meet different kind of problems depend on who we are or what we are doing right now to be more specific.

And that is why we cope with the problems in various reactions. We can be very worry, afraid, thoughtless, panic, anxious, you named it. Otherwise, we can be that still, relaxed, and calm. Each person has their own reaction and way to cope with their own problems. So when someone comes to you and probably tell about their problem and you thought their response to the problem is too much, that is when we should try to understand. Maybe the person is not tougher than you, you never been in her shoes. Then why judge?

To all persons who take problems in quiet ease, rather than taking others' problem is excessive, it would be gladful to listen to the stories or lead the others to some solutions and options to be contemplated. People have different mind, diverse experiences, pyshic and mental, and character, we just can not equalize.

Sekedar Basa Basi

You may want to listen,



Diam, tapi memendam
Biasa, ternyata merasa
Salahkah ku menuntut mesra?

Cuma bisa basa basi
tentang sekedar mampir dan hampir
lalu berjalan lagi, kali ini pakai hati,
tapi logika berhenti.

Perang hati dan pikiran meruntuhkan
pendirian
membakar tali pertemanan
mengenyahkan gagasan

Salahkah aku punya perasaan?

Karena, Aku pada waktu itu,
sama seperti katamu sekarang
Di kota yang dingin, Aku ingin menghangatkan
Di kota yang sakit, Aku ingin menyembuhkan
 Di kota yang sepi, Aku ingin meramaikan.










Basa basi di Jatinangor waktu itu,
tengah tahun,
2016

Wednesday, May 10, 2017

Tentang : Ambisi dan Ada yang Salah

Hari Rabu tanggal 10 Mei 2017 di Jatinangor. Satu jam yang lalu Aku baru saja bangun, semalaman suntuk memenuhi kewajiban sebagai mahasiswa semester 4, belakangan ini menjadi deadliners untuk pertama kalinya, membuat Aku bangun lewat dari jam pagiku. Segelas besar kopi yang Aku beli dari sebuah tempat makan paling favorit, menemani sampai selesainya 45 lembar tugas mata kuliah paling dipuja - puji ini.

Lega, selain tumpukan tugas tersebut, Aku juga menyenangi dan menikmati tanggung jawab lain yang ku punya diluar tugas kuliah. Ambisi mengikuti kepanitaan ini dan itu, kepusingan yang Aku nikmati, keputusan - keputusan yang bulat, Ah, harapan dan ambisiku ada di sana.

Lalu kemudian ada yang aneh, yang janggal, yang Aku ingin tinggalkan segera, secepatnya, sekarang. Tapi bagaimana bisa? katanya harapan dan ambisiku ada di sana? Ternyata bukan di sana, siapa yang salah? Aku kah salah menaruhnya waktu itu? Tapi kala itu dorongan begitu besar, semua orang merasa menunjuk orang yang tepat, semua orang sontak ramai menyambut nafas baru, termasuk Aku.

Bagaimana penjelasan logisnya ketika Kamu harus menjadi masinis sebuah kereta yang tujuannya tidak Kamu pahami kemana, yang jalan menuju kesananya tak Kamu yakini ada, yang ternyata Kamu hanya tidak mau dan tidak mengerti cara membuat kereta itu berjalan. Bagaimana Kamu ingin turun dari kendali kereta itu, dan membiarkan penumpang di dalamnya, mungkin ada yang lebih mengerti cara mengendalikan sebuah kereta, sampai pada tujuan mereka.

Bukannya Aku Si Pesimis, tapi Aku juga punya mata dan pikiran untuk melihat realitas, dan hati untuk menakar keyakinanku.

Masinis ini kehilangan kemauannya. Ia sudah pada tahap tidak mau memikirkan hal - hal yang berhubungan dengan kereta dan tujuannya itu. Tapi ia hanya tidak mau naik kereta itu. Ia tak punya keinginan tersebut. Biarlah Ia menjadi masinis 10 kereta lainnya, tapi tidak dengan kereta itu.

Iya, masinis itu adalah Aku. Berat setiap langkah kaki yang harus aku angkat mengenai tujuan kereta itu, sekarang hampir membuatku lumpuh. Entah apa yang salah, aku sudah menguraikannya, hanya ketidakinginanku satu - satunya alasan. Bulan 10 masih bukan main lamanya, apakah Aku sanggup? sepertinya tidak lagi. Jadi bagaimana?

Tidak tahu, makannya aku menulis. Berharap ada bisikan yang bisa membantu. Atau sesuatu yang bisa memundurkan atau memajukan waktu, yang mana saja, Aku mau.

Jatinangor,
semoga semangat dan harapan ku
tetap berada di sini.

Thursday, March 16, 2017

GOLDS OF TODAY

Cerita ini mengenai hal - hal kecil tapi penting, dan betapa kadang saya lupa dengan keberadaan dan faedahnya

Cerita ini hanya gagasan dari akhir sebuah hari,
sekedar bukti pada diri sendiri bahwa kita mempelajari sesuatu dan tidak pernah berhenti

Mari kita mulai

Pagi ini, seperti pagi - pagi lainnya saya selalu pergi ke kampus bersama seorang teman. Kami bertemu setiap hari, obrolan memang jadi seputar senang, sedih dan kesal kami kemarin harinya. Kemudian sampai pada pembahasan tumpukan rapat yang, hampir selalu, terlambat mulai. Bukan 5 menit, tapi satu jam. Dia mengeluh, 

padahal gue selalu dateng on time, tapi tetep aja mulainya telat. Nih, pokoknya gue nggamau melakukan hal - hal yang gue ngga suka ke orang lain. Soalnya gue tau rasanya ga enak.

Eh, saya setuju banget. Cuma ya, kok, saya baru sadar lagi, baru diingatkan lagi, memang seharusnya manusia punya empati terhadap orang lain. Ngga harus sama anak - anak di Afrika yang kurang gizi dan kesehatan atau penduduk di kota Jakarta sana yang digusur dan kehilangan tempat tinggal, tapi empati terhadap orang - orang terdekat dan hal - hal yang paling kecil.

Hari ini, pingin banget saya kasih julukan hari ter hectic seumur hidup saya jadi mahasiswa. Selesai rapat yang menghabiskan waktu dan energi selama 8 jam, saya belum ingin pulang dan jadi ngobrol - ngobrol. Sebuah masalah muncul dan waktu dicari jalan keluarnya saya diingatkan dengan kalimatnya yang bilang, 

ya lain kali lebih jaga perasaan aja

Saya langsung jadi merasa human is a creature full of ego, apakah selama ini saya sudah cukup menjaga perasaan orang lain? 

Semakin larut dan mengantuk, saya akhirnya pulang juga. Saya menaiki tangga ke kamar dengan tangan penuh membawa kantong - kantong plastik yang salah satunya merupakan kado ulang tahun dari seorang teman. Di dalam bungkus kado tersebut, saya menemukan fidelity and honesty. Mulai dari barang yang diberikannya sampai kartu ucapan yang cukup panjang.

Dengan merobek bungkus kado itu, saya diingatkan oleh adanya ketulusan dan kebaikan dalam diri seseorang, adanya kesetiaan dalam sebuah pertemanan yang mungkin saya lupa untuk menyadarinya. 

Setiap hari memang digunakan untuk memperbaiki diri. Hari ini saya diingatkan untuk melakukan itu.



Cerita ini saya tulis sebagai asupan untuk diri dan hati, dan akhirnya sebagai penutup hari