Wednesday, May 10, 2017

Tentang : Ambisi dan Ada yang Salah

Hari Rabu tanggal 10 Mei 2017 di Jatinangor. Satu jam yang lalu Aku baru saja bangun, semalaman suntuk memenuhi kewajiban sebagai mahasiswa semester 4, belakangan ini menjadi deadliners untuk pertama kalinya, membuat Aku bangun lewat dari jam pagiku. Segelas besar kopi yang Aku beli dari sebuah tempat makan paling favorit, menemani sampai selesainya 45 lembar tugas mata kuliah paling dipuja - puji ini.

Lega, selain tumpukan tugas tersebut, Aku juga menyenangi dan menikmati tanggung jawab lain yang ku punya diluar tugas kuliah. Ambisi mengikuti kepanitaan ini dan itu, kepusingan yang Aku nikmati, keputusan - keputusan yang bulat, Ah, harapan dan ambisiku ada di sana.

Lalu kemudian ada yang aneh, yang janggal, yang Aku ingin tinggalkan segera, secepatnya, sekarang. Tapi bagaimana bisa? katanya harapan dan ambisiku ada di sana? Ternyata bukan di sana, siapa yang salah? Aku kah salah menaruhnya waktu itu? Tapi kala itu dorongan begitu besar, semua orang merasa menunjuk orang yang tepat, semua orang sontak ramai menyambut nafas baru, termasuk Aku.

Bagaimana penjelasan logisnya ketika Kamu harus menjadi masinis sebuah kereta yang tujuannya tidak Kamu pahami kemana, yang jalan menuju kesananya tak Kamu yakini ada, yang ternyata Kamu hanya tidak mau dan tidak mengerti cara membuat kereta itu berjalan. Bagaimana Kamu ingin turun dari kendali kereta itu, dan membiarkan penumpang di dalamnya, mungkin ada yang lebih mengerti cara mengendalikan sebuah kereta, sampai pada tujuan mereka.

Bukannya Aku Si Pesimis, tapi Aku juga punya mata dan pikiran untuk melihat realitas, dan hati untuk menakar keyakinanku.

Masinis ini kehilangan kemauannya. Ia sudah pada tahap tidak mau memikirkan hal - hal yang berhubungan dengan kereta dan tujuannya itu. Tapi ia hanya tidak mau naik kereta itu. Ia tak punya keinginan tersebut. Biarlah Ia menjadi masinis 10 kereta lainnya, tapi tidak dengan kereta itu.

Iya, masinis itu adalah Aku. Berat setiap langkah kaki yang harus aku angkat mengenai tujuan kereta itu, sekarang hampir membuatku lumpuh. Entah apa yang salah, aku sudah menguraikannya, hanya ketidakinginanku satu - satunya alasan. Bulan 10 masih bukan main lamanya, apakah Aku sanggup? sepertinya tidak lagi. Jadi bagaimana?

Tidak tahu, makannya aku menulis. Berharap ada bisikan yang bisa membantu. Atau sesuatu yang bisa memundurkan atau memajukan waktu, yang mana saja, Aku mau.

Jatinangor,
semoga semangat dan harapan ku
tetap berada di sini.