Thursday, March 16, 2017

GOLDS OF TODAY

Cerita ini mengenai hal - hal kecil tapi penting, dan betapa kadang saya lupa dengan keberadaan dan faedahnya

Cerita ini hanya gagasan dari akhir sebuah hari,
sekedar bukti pada diri sendiri bahwa kita mempelajari sesuatu dan tidak pernah berhenti

Mari kita mulai

Pagi ini, seperti pagi - pagi lainnya saya selalu pergi ke kampus bersama seorang teman. Kami bertemu setiap hari, obrolan memang jadi seputar senang, sedih dan kesal kami kemarin harinya. Kemudian sampai pada pembahasan tumpukan rapat yang, hampir selalu, terlambat mulai. Bukan 5 menit, tapi satu jam. Dia mengeluh, 

padahal gue selalu dateng on time, tapi tetep aja mulainya telat. Nih, pokoknya gue nggamau melakukan hal - hal yang gue ngga suka ke orang lain. Soalnya gue tau rasanya ga enak.

Eh, saya setuju banget. Cuma ya, kok, saya baru sadar lagi, baru diingatkan lagi, memang seharusnya manusia punya empati terhadap orang lain. Ngga harus sama anak - anak di Afrika yang kurang gizi dan kesehatan atau penduduk di kota Jakarta sana yang digusur dan kehilangan tempat tinggal, tapi empati terhadap orang - orang terdekat dan hal - hal yang paling kecil.

Hari ini, pingin banget saya kasih julukan hari ter hectic seumur hidup saya jadi mahasiswa. Selesai rapat yang menghabiskan waktu dan energi selama 8 jam, saya belum ingin pulang dan jadi ngobrol - ngobrol. Sebuah masalah muncul dan waktu dicari jalan keluarnya saya diingatkan dengan kalimatnya yang bilang, 

ya lain kali lebih jaga perasaan aja

Saya langsung jadi merasa human is a creature full of ego, apakah selama ini saya sudah cukup menjaga perasaan orang lain? 

Semakin larut dan mengantuk, saya akhirnya pulang juga. Saya menaiki tangga ke kamar dengan tangan penuh membawa kantong - kantong plastik yang salah satunya merupakan kado ulang tahun dari seorang teman. Di dalam bungkus kado tersebut, saya menemukan fidelity and honesty. Mulai dari barang yang diberikannya sampai kartu ucapan yang cukup panjang.

Dengan merobek bungkus kado itu, saya diingatkan oleh adanya ketulusan dan kebaikan dalam diri seseorang, adanya kesetiaan dalam sebuah pertemanan yang mungkin saya lupa untuk menyadarinya. 

Setiap hari memang digunakan untuk memperbaiki diri. Hari ini saya diingatkan untuk melakukan itu.



Cerita ini saya tulis sebagai asupan untuk diri dan hati, dan akhirnya sebagai penutup hari