Laut rembang terpukau
Dirindukan sang danau
Terpisahkan oleh daratan
Dipersatukan sang hujan
Melupa tuk mengingat
Bahwa hasratnya tersirat
Dirasa di ujung dunia
Di saat pagi belia
Kalau sampai nanti waktu masih berbaik hati, dan semesta mengizini, aku akan meminta tidak lebih dari ini. Sejatinya tidak akan pernah. Waktu tidak sebaik itu, semesta tidak mudah dirayu. Tapi satu gelas iced coffee tanpa whipped cream dan cookies and cream blended punyamu itu, I'm glad to always have those days. Mungkin ditambah satu porsi kentang goreng, atau minumanku yang dipesan jadi panas kalau hujan, atau apapun minumanmu yang non-coffee.
Terdengar sebuah band sedang tampil dalam mungkin, genrenya folk. Vokalisnya membawa tamborin, penontonnya tidak banyak waktu itu, tapi aku bilang lagunya bagus. Mendengar komentarku itu, kamu menyetujui, kemudian malah terpancing untuk menceritakan band-band lain yang serupa beserta sejarahnya. Aku tidak pernah mencintai cerita-cerita itu, well, beberapa sih, tapi aku bersedia mendengarkannya, paling tidak menambah pengetahuanku, dan aku selalu membalasnya penuh antusiasme bukan?
Selepas itu ceritamu diikuti cerita-ceritaku tentang apa saja. Tentang kitkat bar dengan rasa hazelnut yang baru aku temukan, tentang film-film baru, tentang sepatuku yang talinya hilang sebelah, tentang tempat-tempat yang bagus dan photo-able, tentang semuanya sampai akhirnya memunculkan hari-hari kita bertemu lagi.
Kita telah menjelma
Menjadi insan duka
Bilur jadi saksinya
Meretas dalam suka
Dan kita bertahan dalam sebuah kekhilafan
Mengingkari nyata dipisahkan tuan
Siapakah kita? Tiada perlu diartikan
Karena dalam diam saling merasakan
Dilain hari, menuju tempat yang berbeda. Jalanan masih basah sisa hujan. Ada pohon yang batangnya beberapa jatuh ke jalan, tadi hujan kayaknya marah. Seperti tidak ada yang kamu pedulikan, jalanan macet, kaca berembun, kamu mengganti frekuensi radio ditengah-tengah aku yang sedang ikutan bernyanyi. Kamu bilang kamu punya jokes baru, jadilah kamu melontarkan semacam tebak-tebakan itu. Asal jawab aku bilang aku tidak tahu. "coba pikir pikir dulu deh", kamu maksa. Kemudian Live Forever nya Oasis diputarkan di radio. Sambil menyelami liriknya aku pura-pura memikirkan jawaban tebakanmu itu.
Hiduplah untuk hari ini. Kutipan ini melewati pikiranku. Hidupku ini kok isinya kutipan semua ya, hahaha. Tapi siapa yang ngga suka membaca kutipan yang sebelas duabelas sama hidupnya. Serius deh, rasanya kan jadi kaya ada yang tau banget kita lagi menghadapi apa? Lalu tiba-tiba jadi menguatkan diri sendiri karena dengan lihat kutipan itu, kita jadi tau kalo ada orang lain yang pernah mengalami hal yang sama.
Tapi emang aneh rasanya, saat kita menghidupi yang sekarang. Bukan yang lalu bukan yang nanti. Kita hidup benar-benar untuk saat ini. Tanpa penyesalan, tanpa harapan. Hanya menjadi, di saat ini. Tidak juga ada pikiran apakah aku pernah berharap ada ditempat ini, menjadi ini, bersama apapun yang sekarang ada di sekitar ku. Tidak ada pikiran tentang pikiran, hanya menjadi keberadaan.
Lalu kepikiran lagi, "Do you think i count the days?" katanya Jean-Paul-Satre. “There is only one day left, always starting over: it is given to us at dawn and taken away from us at dusk.”
Jika nanti telah usai
Melepas beban muram
Tersisa luka yang memburai
Sebisa kan ku redam
Karena tidak tahu kapan usai, jadi aku ingin hidupi hari ini saja. Tidak berharap, tidak juga menyesal. Malah seperti ikan mati yang terbawa arus laut. Ceritanya tidak perlu ditambah-tambah, diindah-indahkan, biarkan begitu saja. Jikalau 10 tahun lagi, boleh pilih, ditanyakan kenapa atau kita pura-pura lupa.
"mikir, ngelamun, apa meditasi daritadi?" , ucapanmu bikin buyar. Dan kita sudah sampai.



No comments:
Post a Comment