Tuesday, October 18, 2016

Terbalik?




Saya selalu ingat tiap kali Ibu saya bilang,
jangan sedih. Setiap masalah pasti ada hikmahnya,
setiap keterpurukanmu, pasti jadi pelajaran juga.

Saya selalu ingat di setiap waktu hati menangis, dan berpikir menjadi hal yang sia-sia,
seorang teman menasehati,
justru masalah-masalah ini yang nanti jadi bekal supaya Kamu lebih kuat menghadapi masalah lainnya.

Saya lebih dari setuju.
Saya selalu percaya seratus persen terhadap apapun yang menyatakan bahwa semakin hari kau semakain kuat. Saya pernah percaya pada sebiah hal yang saya analogikan dengan tembok rumah. Perlahan dibangun dengan batu bata dan semen. Menahan semua keributan alam menyerang. Sesekali Ia terkikis, membentuk lubang, ditambal lagi supaya tetap kuat menahan bangunan.

Lubang-lubang di tembok itu tak lagi berarti selama saya masih mampu menambalnya, memberinya kekuatan lagi supaya bisa menahan bebannya yang berat. Tapi kemudian, lubang-lubang kecil lah yang justru dibuatnya saya gelisah.

Masalah-masalah yang besar itu, yang katanya menguatkan, tidak membuat saya semakin kuat. Setidaknya, tidak hari ini. 
Justru terbalik.
Saya jadi terlalu takut dengan hal-hal kecil
dengan setitik kesalahan, dengan sesuatu di luar dugaan, dengan penolakan, dengan sedikit kekecewaan
Jadi terlalu payah dalam menghadapinya,
jadi rentan bukan menguat.
Sampailah saya pada titik untuk bertanya harus apa.
Sampailah saya pada puncak tertinggi yang selangkah lagi mungkin jatuh,
dan jadilah saya, malam ini, sebuah rupa yang gelisah.

No comments:

Post a Comment