Tiba-tiba ricuh, pintu digedor-gedor seperti akan badai sedetik lagi
Ia memaksamu keluar, memaksamu berpikir, memerintah untuk melepas apa yang perlu dilepas, segera.
Kamu lupa kamu pernah berjanji
Kamu tidak peduli dengan pemerhati
Kamu tau tapi tidak mau tau
Kamu, kamu, kamu terlalu salah untuk punya kebenaran
Lalu Kamu mencoba berdiri, berjalan, tapi baru sebentar,
serasa cahaya tak ada lagi yang menyala
sepercik saja, bukan main redup.
Seseorang yang tinggal dilupakan, mendefinisikan Kamu.
Jadi kecil, jadi hilang, jadi sesuatu yang tidak pernah diinginkan
Atau tetap ada, tetap berada,
tapi tidak ada yang percaya.
Kamu, yang tidak bisa menjaga, biarlah dia mempertimbangkan apa-apanya
Kamu yang mungkin tidak akan pernah tahu rasanya,
hampiri saja meja dengan api berjelaga
Disitu ada kertas dan pena, tulislah apa yang Kamu bisa,
sampai mulut berbusa,
sampai besok dan lusa

No comments:
Post a Comment